NASMOCO – Mobil hybrid ternyata lebih laris dari mobil listrik selama tahun 2023 lalu.

Bukan hanya lebih laris, pertumbuhan konsumen mobil hybrid ternyata juga lebih meyakinkan dari tahun ke tahun.

Mengutip data yang disampaikan Gabungan Industri Kendaraaan Bermotor Indonesia (Gaikindo), selama tahun 2023 mobil hybrid laku 54.197 unit.

Sementara itu di tahun yang sama, mobil listrik hanya mencatatkan penjualan di angka sekitar 17.051 unit.

Dilihat dari pertumbuhan pasarnya mobil hybrid juga masih unggul jauh.

Hal itu karena baik mobil hybrid ataupun mobil listrik  selama tahun 2022 hanya mencatatkan penjualan di angka sekitar 10 ribu unit.

Artinya pasar mobil hybrid tumbuh lebih dari 500 persen, dan mobil listrik tumbuh  sebesar 70 persen.

Dikutip dari sindonews.com, sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraaan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara menyebut Innova Zenix Hybrid menjadi mobil yang paling laris.

Bahkan Innova Zenix secara umum baik versi hybrid maupun bensin menjadi mobil paling laris selama tahun 2023 dengan mencatatkan penjualan 66.460 unit.

Fakta mobil hybrid lebih laris dibanding mobil listrik ini cukup mengejutkan di saat pemerintah hanya memberikan subsidi kepada mobil listrik.

Padahal, sejatinya baik mobil hybrid dan mobil listrik sama-sama kendaraan elektrifikasi.

Hanya saja penggunaan energi listriknya yang berbeda.

Namun nyatanya meski mobil hybrid tidak mendapat subsidi, masyarakat lebih berminat dengan kendaraan itu karena beberapa faktor.

Berikut ini beberapa faktor kenapa dalam beberapa tahun ke depan mobil hybrid akan lebih menguntungkan dibanding mobil listrik

1. Infrastruktur

Melihat kondisi yang ada sekarang, fasilitas SPKLU atau stasiun pengisian listrik umum hanya terdapat di kota besar.

Jumlahnya juga belum tersebar luas seperti halnya SPBU.

Di wilayah Jateng dan DIY misalnya, data dari PLN Jateng DIY, di wilayah Jateng dan DIY hanya ada 8 titik SPKLU.

SPKLU itu ada di PLN Semarang, SPKLU rest area 379A, res area 519A, rest area 519B, rest area 389B, SPKLU PLN Surakarta, SPKLU Yogyakarta, dan SPKLU UID Jateng DIY.

2. Evisiensi

Berdasarkan hasil uji coba LPEM FEB UI, efisiensi kendaraan hybrid sama baiknya dengan mobil listrik murni saat dipakai di kawasan perkotaan.

“Selama simulasi, BBM-nya terpakai kecil banget dan digerakkan oleh baterainya," ujar Riyanto, Peneliti Senior LPEM FEB UI, sebagaimana dikutip dari Kompas.

3. Harga

Hingga saat ini mobil dengan penggerak motor listrik harganya masih lebih mahal dari kendaraan hybrid.

Sebagai contoh misalnya mobil SUV Toyota Corolla Cross Hybrid dibanderol dengan harga Rp 548,3 juta.

Sementara mobil listrik yang berada di kelasnya dibanderol Rp 718 juta.

Selisih harga keduanya cukup jauh.

Sejauh ini mobil listrik yang dijual di Indonesia masih terbatas dan harganya mahal.

Ini karena ekosistemnya belum mendukung.

4. Mobilitas

Hingga saat ini jarak tempuh terjauh mobil listrik dari baterai penuh hingga nol di angka 450-an kilometer.

Dengan jumlah SPKLU yang terbatas jelas itu akan menghambat mobilitas.

Sementara budaya masyarakat Indonesia masih senang berpergian jauh mengendarai mobil, terlebih setelah tol trans Jawa dan Sumatera perlahan mulai terhubung.

Melihat hal itu, mobil listrik hanya cocok untuk mereka yang berencana memiliki mobil kedua.

Kendaraan listrik digunakan untuk dalam kota, dan BBM digunakan untuk luar kota.

Jika demikian akan lebih efisien menggunakan mobil Hybrid bukan?

Itu tadi empat alasan kenapa memilih mobil Hybrid dibanding mobil listrik.

Segera hubungi wiraniaga Nasmoco atau informasi lebih lanjut cukup melalui klik bit.ly/wanasmoco dan dapatkan layanan kebutuhan Toyota Anda dengan MUDAH LENGKAP NYAMAN. (*)