NASMOCO - Kenaikan harga bahan bakar kerap membuat pemilik mobil mencari cara untuk menekan biaya operasional.
Salah satu langkah yang banyak dipertimbangkan adalah beralih dari Pertamax ke Pertalite karena selisih harga yang cukup signifikan.
Sekilas, langkah ini memang terlihat mampu menghemat pengeluaran harian, terutama bagi pengguna kendaraan dengan mobilitas tinggi.
Namun sebelum memutuskan turun oktan, pemilik kendaraan perlu memahami bahwa setiap mesin dirancang untuk bekerja dengan spesifikasi bahan bakar tertentu.
Pada banyak mobil modern, pabrikan merekomendasikan penggunaan BBM dengan angka oktan minimal RON 92 atau setara Pertamax.
Ketika kendaraan tersebut menggunakan BBM dengan oktan lebih rendah, ada beberapa risiko yang perlu diperhatikan.
Berikut empat risiko yang dapat muncul ketika mobil yang direkomendasikan menggunakan Pertamax beralih ke Pertalite.
1. Muncul Gejala Mesin Ngelitik
Risiko pertama adalah terjadinya detonasi atau yang lebih dikenal dengan istilah mesin ngelitik.
Kondisi ini terjadi ketika campuran udara dan bahan bakar terbakar sebelum percikan busi bekerja sesuai waktunya.
Pembakaran yang tidak sesuai desain mesin tersebut menimbulkan gelombang tekanan di ruang bakar sehingga terdengar suara ketukan atau ngelitik.
Jika terjadi terus-menerus, kondisi ini dapat mengganggu kenyamanan berkendara sekaligus meningkatkan beban kerja mesin.
2. Suhu dan Tekanan Ruang Bakar Meningkat
Penggunaan BBM dengan angka oktan lebih rendah dari kebutuhan mesin dapat membuat proses pembakaran berlangsung kurang ideal.
Akibatnya, suhu dan tekanan di dalam ruang bakar meningkat secara tidak merata.
Kondisi tersebut dapat memunculkan titik panas pada komponen tertentu.
Dalam jangka panjang, temperatur yang terlalu tinggi berpotensi mempercepat keausan beberapa komponen mesin dan mengurangi efisiensi kerja kendaraan.
3. Risiko Kerusakan Komponen Mesin
Piston menjadi salah satu komponen yang paling rentan terdampak akibat pembakaran yang tidak sesuai spesifikasi.
Temperatur tinggi yang terjadi secara lokal di ruang bakar dapat membuat piston menerima tekanan dan panas berlebih.
Meski kerusakan tidak terjadi secara instan, penggunaan BBM yang tidak sesuai rekomendasi dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko kerusakan pada piston maupun komponen lain yang bekerja di dalam ruang bakar.
Biaya perbaikan yang muncul tentu jauh lebih besar dibandingkan selisih harga bahan bakar yang dihemat.
4. Performa Mobil Menurun
Mobil modern memang telah dilengkapi berbagai teknologi untuk melindungi mesin, salah satunya knock sensor yang mampu mendeteksi gejala detonasi.
Ketika sistem mendeteksi potensi knocking, komputer kendaraan akan menyesuaikan waktu pengapian agar mesin tetap aman.
Namun, ada konsekuensi yang harus diterima. Penyesuaian tersebut membuat proses pembakaran tidak lagi berlangsung pada kondisi paling ideal sehingga tenaga mesin berkurang.
Pengemudi dapat merasakan akselerasi yang lebih lambat, respons gas yang menurun, hingga performa keseluruhan yang tidak seoptimal saat menggunakan BBM sesuai rekomendasi pabrikan.
Gunakan BBM Sesuai Rekomendasi Pabrikan
Menghemat pengeluaran bahan bakar memang penting, tetapi menjaga kesehatan mesin juga tidak kalah penting.
Karena itu, pemilik kendaraan sebaiknya tetap mengikuti rekomendasi angka oktan yang ditetapkan pabrikan agar performa, efisiensi, dan keawetan mesin tetap terjaga.
Selain menggunakan BBM yang tepat, kondisi mesin juga perlu diperiksa secara berkala.
Servis rutin dapat memastikan sistem pembakaran, injektor, filter udara, hingga busi bekerja optimal sehingga konsumsi bahan bakar tetap efisien tanpa harus mengorbankan performa kendaraan.
Hubungi Nasmoco Care di nomor 1500 858 untuk kebutuhan Toyota yang mudah lengkap dan nyaman. (*)




