NASMOCO - Mobil listrik di Indonesia masih memiliki beberapa kelemahan bagi penggunanya.
Memang kedepan, kelemahan mobil listrik ini akan semakin berkurang seiring dukungan pemerintah terhadap pengembangan kendaraan ramah lingkungan.
Namun, hal itu butuh waktu yang mungkin belum bisa tercapai dalam 10 atahu 20 tahun kedepan.
Berikut ini beberapa kelemahan mobil listrik yang bisa diatasi mobil hybrid.
1. Harga yang Masih Mahal
Salah satu hambatan utama untuk adopsi mobil listrik adalah harganya yang masih mahal.
Meskipun ada beberapa pilihan mobil listrik dengan harga terjangkau, mayoritas kendaraan listrik di Indonesia masih berada di kisaran harga yang tinggi.
Mayoritas mobil listrik berada di angka Rp600 juta hingga di atas Rp 1 miliyar.
Hal ini berbeda dengan mobil Hybrid yang sudah bisa dipinang dengan harga Rp 400 jutaan.
2. Infrastruktur Masih Terbatas
Infrastruktur yang terbatas menjadi tantangan serius bagi mobilitas kendaraan listrik di Indonesia.
Stasiun pengecasan baterai masih jarang di luar kota-kota besar, membuat penggunaan mobil listrik kurang ideal di wilayah-wilayah pedesaan.
Di Jateng sendiri keberadaan SPKLU masih terbatas di kota-kota besar.
Dengan daya tahan baterai yang menempuh 200an km sekali mengecharge penuh, tentu menggunakan mobil listrik masih riskan.
Bagaimana jika kehabisan baterai di jalan?
3. Harga Baterai Mahal
Harga baterai mobil listrik menjadi salah satu komponen termahal dalam kendaraan listrik.
Hal ini berdampak pada harga jual mobil listrik secara keseluruhan.
Harga baterai mobil listrik bisa mencapai separuh dari harga jual mobil listrik itu sendiri.
Belum lagi life time baterai mobil listrik yang masih ada di kisaran delapan tahun pemakaian.
Artinya pemilik mobil listrik harus membayar lagi separuh harga mobil setelah 8 tahun pemakaian.
Worth it?
4. Waktu Pengecasan yang Lama
Waktu pengecasan mobil listrik yang lama menjadi kekhawatiran bagi calon pengguna.
Pengisian dari kosong hingga penuh bisa memakan waktu hingga 6 jam. Bahkan bisa lebih.
Kelemahan ini bisa diatasi oleh mobil hybrid.
Pasalnya kendaraan hybrid Toyota tak perlu dilakukan pengecasan baterai. Energi listrik otomatis terisi saat kendaraan berjalan menggunakan energi BBM.
5. Belum Tentu Ramah Lingkungan
Mobil listrik dianggap sebagai solusi transportasi yang ramah lingkungan karena tidak menghasilkan emisi langsung saat digunakan.
Namun, di Indonesia, mayoritas pembangkit listrik masih menggunakan batu bara, yang memiliki dampak buruk terhadap lingkungan.
Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, kapasitas terpasang pembangkit listrik di Indonesia pada 2021 mencapai 66.514,31 megawatt (mw).
Mayoritas pembangkit listrik tersebut berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis batu bara sebesar 33.092 mw.
Jumlah ini setara 66% dari total kapasitas terpasang pembangkit listrik Indonesia pada 2021.
Padahal batu bara memiliki berbagai dampak buruk terhadap lingkungan.
Pengambilan, pengolahan, dan penggunaan batu bara dinilai merusak lingkungan dan menimbulkan masalah.
Pasalnya produksi batu bara dilakukan dengan membabat hutan dan menggali tambang. Prosesnya pun mencemari air, tanah, dan udara.
Ketika dibakar, batu bara melepaskan sulfur dalam bentuk gas belerang dioksidan (SO2). Batu bara juga menghasilkan partikel karbon hitam dalam jumlah banyak.
Ini sebabnya batu bara merupakan bahan bakar yang paling kotor.
Melihat beberapa kelemahan itu, untuk saat ini rasanya mobil hybrid bisa menjadi solusi untuk kebutuhan penghematan BBM dan tuntutan ramah lingkungan.
Toyota sendiri saat ini sudah memiliki dua line up mobil hybrid karya anak bangsa yakni Innova Zenix dan Toyota Yaris Cross.
Ingin tahu lebih banyak terkait keunggulan dua produk tersebut?
Hubungi wiraniaga Nasmoco atau klik bit.ly/wanasmoco dan dapatkan layanan kebutuhan Toyota anda dengan MUDAH, LENGKAP, NYAMAN. (*)




