NASMOCO.CO.ID - Mobil listrik sering digembar-gemborkan sebagai solusi masa depan untuk menyelamatkan bumi dari krisis iklim.

Bebas emisi, tidak berisik, dan terkesan futuristik.

Tapi tahukah Nasmoco Lovers? Di balik kesan “hijau” itu, ada sejumlah fakta yang justru menunjukkan bahwa mobil listrik tidak sebersih yang kita bayangkan.

Berikut 5 fakta mengejutkan tentang mobil listrik yang perlu kamu tahu sebelum terlanjur percaya sepenuhnya bahwa ini adalah kendaraan ramah lingkungan.

1. Mobil Listrik Masih Bergantung pada Listrik dari Batu Bara

Mobil listrik memang tidak mengeluarkan asap knalpot, tapi dari mana listriknya berasal?

Di banyak negara, termasuk Indonesia, mayoritas listrik masih diproduksi dari pembangkit listrik tenaga batu bara—salah satu sumber emisi karbon tertinggi.

Artinya, setiap kali kamu mengisi daya mobil listrik, kamu tetap berkontribusi pada emisi gas rumah kaca, hanya saja lewat saluran listrik, bukan knalpot.

Mengutip dari kompas.com, seorang peneliti dari MIT Energy Initiative, Sergey Paltsev, menjelaskan bahwa mobil listrik di Amerika Serikat saat ini rata-rata mengeluarkan sekitar 200 gram karbon dioksida per mil, angka ini memang lebih rendah dari mobil konvensional, namun belum ideal.

Itu di Amerika yang jumlah pembangkit listrik dengan bahan bakar batu bara tak sebanyak di Indonesia.

Ia memperkirakan bahwa jika sumber energi beralih ke yang lebih ramah lingkungan, emisi itu bisa ditekan hingga 75 persen pada 2050.

Namun, peralihan ini tentu tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

2. Produksi Baterai Mobil Listrik Lebih Kotor dari Mobil Biasa

Masih menurut penelitian dari MIT Energy Initiative, membuat satu mobil listrik menghasilkan emisi yang lebih tinggi dibandingkan memproduksi mobil berbahan bakar minyak.

Kenapa?

Karena baterai mobil listrik butuh bahan baku seperti nikel, kobalt, dan litium yang proses tambang dan pengolahannya menghabiskan energi sangat besar dan menghasilkan banyak karbon.

Florian Knobloch, peneliti dari Universitas Cambridge, menyebut bahwa emisi dari produksi mobil listrik bisa 30–40% lebih tinggi dibandingkan mobil bensin.

3. Tambang Nikel Rusak Hutan Tropis Indonesia

Indonesia jadi salah satu negara penghasil nikel terbesar di dunia.

Tapi harga yang dibayar sangat mahal, kerusakan lingkungan besar-besaran.

Mengutip dari tribunnews.com, Greenpeace mencatat, permintaan baterai mobil listrik telah memicu ekspansi tambang di daerah kaya nikel seperti Morowali, Halmahera, Konawe, hingga Pulau Obi.

Bahkan, kini Raja Ampat, surga terakhir di Bumi, mulai dilirik untuk ditambang karena kandungan nikelnya.

Hutan, sungai, tanah, hingga laut rusak demi memenuhi permintaan global akan kendaraan hijau.

"Industrialisasi nikel yang makin masif seiring tren naiknya permintaan mobil listrik telah menghancurkan hutan, tanah, sungai, dan laut di berbagai daerah," tegas Aktivis Greenpeace, Iqbal Damanik seperti dikutip dari tribunnews.

Dengan alasan “transisi energi hijau”, tambang-tambang baru dibuka, menggusur ekosistem alami dan mengganggu kehidupan masyarakat adat yang bergantung pada kelestarian alam.

4. Emisi Mobil Listrik Baru Lebih Rendah dalam Jangka Panjang

Kabar baiknya, meskipun proses produksinya menghasilkan emisi lebih tinggi, mobil listrik tetap unggul dalam efisiensi jangka panjang.

Setelah digunakan dalam waktu tertentu, emisi yang dihasilkan per kilometer akan lebih rendah dibandingkan mobil berbahan bakar minyak.

Tapi, ini baru terasa setelah bertahun-tahun pemakaian, dan tergantung dari seberapa “bersih” jaringan listrik yang digunakan untuk mengisi dayanya.

5. Transisi ke Energi Hijau Butuh Waktu Puluhan Tahun

Menurut para ahli, mobil listrik baru akan benar-benar ramah lingkungan jika sumber energinya berasal dari pembangkit energi terbarukan seperti matahari atau angin.

Namun, peralihan ke energi hijau ini tidak bisa terjadi dalam semalam.

Butuh investasi besar dan waktu puluhan tahun.

Hingga saat itu tiba, mobil listrik tetap akan meninggalkan jejak karbon yang tidak bisa diabaikan.

Jadi, meskipun mobil listrik punya banyak keunggulan, kita tidak boleh menutup mata terhadap dampak lingkungan yang terjadi di balik layar. Mobil listrik adalah bagian dari solusi, bukan solusi tunggal.

Sebelum membeli mobil listrik karena alasan lingkungan, penting untuk tahu fakta-fakta di baliknya.

Karena hijau tidak selalu berarti bersih—apalagi jika hutannya harus ditebang dulu untuk jadi baterai. (*)